Sumber: www.wayoflife.org
Diterjemahkan oleh: Gbl. Arifan T. Kusuma
“Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu” (2 Tim 1:6).
Pertimbangkan beberapa pelajaran penting dari instruksi Paulus kepada Timotius:
Kita lihat bahwa orang percaya perlu diingatkan akan tugas-tugas mereka. Bandingkan Filipi 3:1 dan 2 Petrus 3:1. Timotius telah melayani bersama Paulus selama bertahun-tahun. Ia adalah seorang pengkhotbah yang berpengalaman. Ia membantu merintis gereja-gereja. Ia juga telah mengajar para pengkhotbah. Tetapi ia masih perlu diingatkan hal-hal mendasar. Inilah mengapa penting untuk setia berjemaat dan dalam mendengarkan Firman Allah dan mempelajari Alkitab dan membaca materi-materi pengajaran yang alkitabiah secara pribadi. Meski kita tidak belajar sesuatu yang baru, kita diingatkan akan hal-hal yang kita sudah tahu, dan ini adalah bagian yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan kemenangan rohani.
Timotius memiliki karunia pelayanan dari Allah. Tujuh karunia disebutkan dalam Rom 12:6-8 –bernubuat, melayani, menasihati, memberi, memimpin, dan menunjukkan kemurahan. Beberapa karunia rohani bersifat temporer, dan ketika kanon Alkitab selesai, karunia-karunia itu berhenti beroperasi. Lima dari karunia yang disebutkan dalam 1 Korintus 12:28 masuk dalam kategori ini: Rasul, Nabi, Melakukan Mukjizat, penyembuhan, dan berbahasa lidah. Karunia-jkarunia itu adalah tanda kerasulan (2 Kor 12:12). Dalam 1 Korintus 13:8, kita melihat bahwa karunia bernubuat, berbahasa roh, dan pengetahuan akan berlalu. Ini adalah karunia-karunia pewahyuan yang tidak diperlukan karena selesainya Kitab Suci. Ada aspek yang menetap pada ‘bernubuat,’ yakni memproklamasikan Firman Allah, sebagaimana yang dideskripsikan dalam 1 Kor 14:3, “Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati, dan menghibur.” Tetapi bernubuat sebagai tindakan memberi pewahyuan telah berhenti.
Karunia Timotius didapatkan dengan penumpangan tangan Paulus. Para rasul dapat memberikan karunia-karunia rohani (KPR 19:6). Ini menjadi tanda seorang rasul. Pada umumnya, karunia rohani diberikan secara langsung oleh Roh Kudus. “Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya” (1 Kor 12:11).
Karunia itu harus dikobarkan. Secara literal berarti “Menambahkan bara ke dalam api” (Matthew Henry). Karunia rohani harus dijaga agar tetap ‘berapi-api.’ Karunia-karunia rohani dapat menjadi dingin jikalau tidak digunakan. Orang percaya bertanggungjawab untuk mengobarkan karunianya dengan menggunakannya (Mat 25:14-29; 1 Pet 4:10-11). Ini adalah gambaran akan kebangunan rohani yang terus menerus melalui pengejaran panggilan seseorang dengan penuh semangat. Kata kerja ‘kobarkan’ adalah present tense, mengindikasikan aksi yang terus-menerus. Pengobaran karunia rohani seseorang bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan sekali, atau sekali-kali. Tetapi harus dilakukan terus menerus. Jika karunia rohani tidak dikobarkan, maka karunia itu akan menjadi dingin. Hukum termodinamika kedua berjalan dalam dunia rohani sebagaimana dalam dunia fisik. Secangkir kopi panas, jika didiamkan saja akan menjadi hangat, kemudian dingin. Sebuah karunia dan pelayanan rohani, jika didiamkan saja akan mengalami hal yang persis sama.
Segala sesuatu dalam hidup Kristiani dan keluarga dan gereja harus dikobarkan. Kita harus mengobarkan tinggal di dalam Kristus, bersandar pada Roh Kudus, berjalan dalam terang, kekudusan, pembelajaran Alkitab, doa, separasi dari dunia, penginjilan, hubungan keluarga yang saleh, pendisiplinan anak, keimamatan yang rajani, melayani satu dengan yang lain dalam tubuh (Kristus), semuanya. Kita mengobarkannya dengan memberitakan dan mengajarkannya, dengan mengulanginya, dengan menekankannya, dengan mejadikannya model, dengan membisiki dan meneriakkannya. Ada pepatah yang bagus, “Tidak ada yang dapat dipertahankan tanpa sebuah kampanye.” Kita diingatkan akan Ul 6:7, yang mengajar bagaimana orangtua melatih anak-anak mereka. Ini adalah kampanye sepenuh waktu: “Harusah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan,apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Setiap pemimpin gereja dan rumah tangga harus menjadi orang yang mengkampanyekan semua hal yang ditekankan dalam Kitab Suci. Ini adalah esensi dari kebangunan rohani. Ini adalah sesuatu yang mana umat Allah harus jalani, hidupi, bukan sesuatu yang mereka rasakan dari sewaktu-waktu dalam pertemuan-pertemuan khusus.
Pada tahun 1911, Lewis Sperry Chafer menulis True Evangelism, dan salah satu perhatiannya adalah gereja-gereja seharusnya tidak berpikir bahwa kebangunan rohani adalah sesuatu yang terjadi dalam pertemuan khusus. Chafer memiliki banyak pengalaman. Dari tahun 1890 – 1896, ia melakukan perjalanan dengan evangelist Arthur T. Reed sebagai seorang penyanyi dan direktur paduan suara, dan dari 1897-1907, Chafer memiliki pelayanan penginjilannya sendiri dengan istrinya sebagai pianis.
“Kebangunan rohani modern – pekerjaan ‘revivalist’ yang bertitelkan evangelist, tetapi bekerja sebagai seorang promotor rohani dalam gereja — tidaklah diharapkan dalam Kitab Suci, kecuali kata ‘kebangunan rohani’ digunakan sebagai sebuah gerakan kemjauan dalam kehidupan rohani suatu gereja, tanpa memasukkan ide berusaha mendapatkan kembali posisi rohani yang dulu didapatkan, namun sekarang telah hilang. Penggunaan kata ‘kebangunan rohani’ biasanya berarti, bangun kembali setelah jatuh atau terjaga setelah ketiduran, atau menjadii kuat kembali setelah suatu waktu lemah; sementara di sisi lainnya, Kitab Suci mengharapkan sebuah posisi yang terus menerus tegak, terjaga, dan agresif untuk pelayanan di pihak setiap orang Kristen (Efe 6:10-17). Sebuah ‘kebangunan rohani’ itu abnormal bukan normal. Mungkin kebangunan rohani bisa berfungsi ketika diperlukan, tetapi seharusnya tidak menjadi kebiasaan, ataupun menjadi metode kerja yang dikhususkan. Setelah mendapatkan kembali vitalitas, orang-orang percaya tidak didorong untuk kembali lagi pada sebuah keadaan di mana ia lupa lagi siapa dirinya” (Chafer, True Evangelism, 1911).
