Sumber: www.wayoflife.org
Diterjemahkan oleh: Gbl. Arifan T. Kusuma
Artikel berikut diambil dari creationmoments.com, 13 Mei 2020: “Salah satu argumen melawan penerimaan akan kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian adalah catatan bahwa Alkitab ditulis oleh orang uno yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk memahami isu-isu ilmiah. Contohnya, para komentator theistik evolusionis telah mengusulkan agar penulis kitab Kejadian – dan biasanya mereka menolak mengakui bahwa penulisnya adalah Musa — pastilah percaya bahwa langit itu suatu kubah yang solid, dan bahwa matahari, bulan, dan bintang-bintang hanyalah benda-benda langit yang ditempelkan di kubah itu. Saya sudah pasti tidak setuju dengan penafsiran buatan akan nas tersebut, yang dipercaya kaum evolusionis bahwa kitab itu ditulis di waktu kemudian – sangat besar kemungkinan pada waktu pembuangan ke Babel. Kitab Ayub berasal dari periode waktu yang sama dengan kitab Kejadian– dan saya mau menunjukkan bahwa pada waktu itulah Musa hidup. Dalam Ayub 11:7-8, teman Ayub, Zofar menyatakan bahwa hikmat Allah setinggi langit. Sehingga, ketidakterbatasan Allah disamakan dengan luasnya alam semesta. Komentar ini tidaklah asing. Dalam Ayub 22:12, Elifas menyatakan: “Bukankah Allah bersemayam di langit yang tinggi? Lihatlah bintang-bintang yang tertinggi, betapa tingginya!” Komen-komen ini bukanlah pernyataan doktrin yang utama. Sebaliknya, komen-komen tersebut menunjukkan opini orang-orang kuno yang sekuno kitab Kejadian, yang mana tidak percaya bahwa langit itu adalah kubah solid yang literal. Justru, ayat-ayat ini menunjukkan keakuratan ilmiah, yang tidak dapat dijelaskan oleh model-model sejarah yang berbasikan evolusi. Ref: Henry Morris, 2000, The Remarkable Record of Job, p. 43.”
