Krisis Coronavirus: Sebuah Ujian Karakter Kristiani

Sumber: www.wayoflife.org
Diterjemahkan oleh: Gbl. Arifan T. Kusuma

Pandemi virus corona adalah krisis dunia terbesar semenjak Perang Dunia II. Dunia mungkin seharusnya tidak ditutup, namun hal itu sebagian besar adalah persepsi setelah peristiwa ini terjadi. Apa yang terjadi bagaikan domino-domino yang berjatuhan. Tidak mungkin menghentikannya dan semuanya itu tidak dapat dikontrol, tetapi harus diterima. Kerusakan besar telah menimpa ekonomi dunia, dan akibatnya tidak dapat ditentukan oleh siapapun juga. Kuasa pemerintahan yang kejam atas hal-hal kecil kehidupan masyarakatnya telah meningkat pada sebuah level yang baru dan menakutkan bahkan di dalam ‘negara-negara yang katanya bebas.’ Ada pembicaraan tentang perang saudara, kerusuhan, bencana kelaparan, hancurnya tatanan sosial.

Peristiwa ini seperti sebuah percobaan bagi antiKristus, dan tentunya Iblis akan menaruh orangnya di atas takhta dunia ini hari ini jika tidak ada pribadi yang menahannya. “Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja, tetapi sekarang masih ada yang menahan. Kalau yang menahannya itu telah disingkirkan, pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya” (2 Tes 2:7-8).

Ada pandemi rasa takut yang sangat menular, keragu-raguan, ketidakpastian, kebingungan frustasi, kemarahan.

Bagi orang-orang Amerika yang ‘kuno’, ada tambahan frustasi melihat negara kesayangannya hancur, kebebasan konstitusional dicampakkan dan diinjak-injak dalam lumpur, kaum sosialis mengamuk, para oportunis di mana-mana, akal sehat tidak dipakai lagi, para pembuat propaganda menguasai pemberitaan media, para pembenci pendiri bangsa berkuasa.

Jadi di manakah hati saya dalam semuanya ini? Apa yang telah ditunjukkan oleh krisis dahsyat ini? Sebagaimana krisis ini menguji saya terbuat dari apa, maka dari apakah saya ini terbuat?

Apakah saya sungguh-sungguh percaya bahwa ada Allah yang mengubah waktu dan bahwa waktu saya ada di tangan-Nya? “Dia mengubah saat dan waktu, Dia memecat raja dan mengangkat raja” (Dan 2:21).

“Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: “Engkaulah Allahku!” Masa hidupku ada dalam tangan-Mu…” (Mzm 31:14-15). Apakah saya bersikap bahwa ayat-ayat ini benar, atau saya bersikap seolah-olah waktu saya ada di tangan pemerintah, WHO, Bill Gates, China, otoritas medis yang terkemuka, sistem perbankan, masyarakat, atau mungkin iblis?

Apakah hati saya berfokus pada tempat yang tinggi atau pada hal-hal dunia ini? “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan” (Kol 3:1-4).

Apakah saya memiliki mindset seperti seorang musafir yang kewarganegaraannya ada di sorga dan yang hanya sekedar melewati dunia ini sebagai tanah yang asing? Dapatkah saya sungguh-sungguh menyanyikan dari dalam hati, “Dunia ini bukanlah rumahku, ku hanya numpang lewat saja?” Atau apakah saya telah terbenam dalam dunia ini dan apakah saya mengasihi dunia seperti istri Lot mengasihi Sodom? Bendera apa yang saya junjung tinggi? Bendera surga, atau Amerika atau Inggris atau Uni Eropa atau bendera-bendera lain dari dunia ini?

Apakah saya bermegah dalam kesusahan sebagaimana Allah beritahu saya untuk lakukan, memahami kesusahan itu memiliki tujuan dan keuntungan dalam kehendak Allah? “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rom 5:3-5). ‘Bermegah’ dalam Rom 5:3 berasal dari kata yunani kauchaomai, yang seharusnya diterjemahkan ‘bersukacita’, juga dalam Rom 5:2. Kata itu memiliki ide yakin, bermegah, memiliki kepastian. Kata itu adalah lawan dari putus asa, frustasi, tertundukkan, tercampakkan, marah terhadap sesuatu.

Apakah saya mempercayai Firman Allah dan percaya janji-janji-Nya dalam hidup sehari-hari? Apakah saya sungguh-sungguh mempercayai bahwa segala sesuatu turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah (Rom 8:28), bahwa waktu saya ada di dalam tangan-Nya (Mzm 31:15), bahwa Tuhan adalah Gembalaku dan tak kan kekurangan aku (Mzm 23:1), bahwa kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku (Mzm 23:6), bahwa orang benar tidak akan tinggalkan atau anak cucunya meminta-minta roti (Mzm 37:25), bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkanku (Ibr 13:5)? Apakah ini kesaksianku? Apakah ini yang dilihat

dan didengar oleh orang lain dari diri saya? Ataukah saya meragu,takut, mengeluh, frustasi, berlaku seperti orang yang belum diselamatkan di sekitar saya?

Apakah saya sungguh-sungguh mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah dan segala kebenaran-Nya, atau hal-hal lain yang mendapat tempat pertama?

Dapatkah saya sungguh-sungguh berkata bersama Ayub, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!…Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk” (Ayub 1:21; 2:10)?

Dapatkah saya sungguh berkata bersama Habakuk, “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku” (Hab 3:17-18).

Apakah krisis ini menunjukkan bahwa saya sungguh-sungguh TIDAK mengasihi dunia ini, bahwa saya TIDAK serupa dengan dunia ini, bahwa saya TIDAK berteman dengan dunia ini? Apakah saya khawatir dengan ditutupnya hal-hal sia-sia seperti olahraga profesional? Apakah saya khawatir tentang apa yang akan terjadi dengan rencana-rencana duniawi saya? “Janganlah serupa dengan dunia ini” (Rom 12:2). “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup untuk selama-lamanya” (1 Yoh 2:15-17). “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah” (Yak 4:4).

Dengan cara apa saya menghabiskan waktu saya selama masa karantina menunjukkan karakter hidup Kristiani saya? Apakah saya memakai waktu saya untuk menenggelamkan diri saya dalam doa dan Firman Allah dan pelayanan? Apakah saya menemukan suatu proyek Alkitab untuk dikerjakan? Apakah saya menghabiskan waktu mendorong orang lain dalam Firman Allah dan membantu mereka berpikir benar akan krisis ini? Ataukah saya depresi rohani, malas, main-main, buang-buang waktu dengan sosial media untuk alasan yang tidak jelas? “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan” (Rom 12:11).